Jubir Internasional Victor Yeimo

Oleh : Victor Yeimo

Fakta diskriminasi rasial: kalau 1 orang saja non-Papua terbunuh, tiba-tiba jadi headline media-media nasional Indonesia. Semua petinggi di Republik ini bicara. Tetapi kalau ada 1 manusia Papua, bahkan belasan sampai puluhan mati terbunuh,  pasti sunyi dari pemberitaan. Dianggap binatang yang mati. Bahkan dianggap salah, melawan hukum/aparat, distigma pemabuk, kriminal, dan semua alasan pembenaran dibuat untuk menutupi kejahatan negara.

Kalian yang bela propaganda Indonesia sadar tidak! Adakah kalian pantau berapa mayat yang hilang membusuk di hutan-hutan, sungai-sungai, rawah-rawah, kampung-kampung dalam operasi-operasi militer Indonesia sejak 1962. Berapa ratus sipil yang mati membusuk saat operasi pemboman pimpinan Prabowo di Jila Belama, Nduga? Tak mungkin bisa dihitung berapa ribu nyawa rakyat sipil mati dalam operasi-operasi tumpas oleh Militer Indonesia.

Lalu di kota, orang Papua yang mati di rumah-rumah sakit. Mati sia-sia karena miras yang sengaja dijual dan dibacking militer Indonesia. Itu pembantaian. Negara bantai orang Papua secara terbuka dan sistematis. Tapi lagi-lagi, korban disalahkan, dan penguasa kolonial dibenarkan dengan alat-alat propagandanya.

Demo damai, seminar dan ibadah bagi nasib bangsa Papua dilarang, lalu ijinkan konvoi milisi sipil, pasar-pasar kaget ilegal, dan panggung-panggung acara milik non-Papua. Kalau perang antar suku dibiarkan, tetapi kalau dengan non-Papua TNI/Polri pasang badan dan kekuatan bela warga non-Papua.

Kemana satu republik ini saat 4 orang pelajar mati dibantai militer terbuka di Paniai tahun 2014 silam? Itu terjadi di kota, siang hari depan ribuan mata. Terlalu banyak kasus pembantaian kalau dituliskan. Memang penderiaan dalam sunyi seakan menjadi takdir hidup bangsa Papua dalam Republik ini.

Jadi kalau yang anda bela hari ini di  kasus Nduga itu memang karena mereka warga negara Indonesia, kalau orang Papua mati tak bakalan dibela karena memang satu Republik ini sudah menganggap orang Papua bukan warga negara Indonesia yang harus dibela. Itulah diskriminasi rasial, tetapi juga kesadaran pembedaan kebangsaan yang tertanam dalam pikiran orang Indonesia yang masih sesat.