| Pdt.Yosia Tebai Berpose Bersama Peserta Seminar |
Seminar tersebut diawali dengan ibadah singkat dibawa sorotan Thema, pemuda yang bijaksana melihat satu tanda heran ke tanda heran yang lain.(Amsal 4:13)
Elek Heluka dalam khotbahnya menyampaikan, sesuai dengan sub Thema, bahwa pemuda-pemudi pegang didikan Tuhan sehingga kepandaian dan hikmat akan diberikan kepada pemuda-pemudi sehingga untuk kedepannya dalam menempuh pendidikan ditingkat SD,SMP,SMA, dan perguruan tinggi tidak ada kesulitan.
" Kehidupan kita harus mengarahkan kepada Tuhan, bukan karena kepandaian itu hanya dari Tuhan. dan kepada kebenaran Tuhan, karena kebenaran adalah dasar hidup manusia" Kata Heluka
| Saat Penyerahan Piagam Dari Panitia Kepada Pdt. Yosia Tebay |
Didalam seminar sehari, ada dua materi yang dibawakan oleh pemateri yaitu tentang Sejarah Masuknya Gereja KINGMI Ditanah Papua dan Perkembangan Iman Pemuda.
Wakil Ketua Sinode KINGMI Di Tanah Papua saat membawah materi menjelaskan, berdirinya misi C&MA pada tahun 1887. A.B Simpson menargetkan, Indonesia sebagai daerah kerja C&MA. Tahun 1926 pada bulan Oktober,para pemimpin C&MA mengadakan rapat khusus di New York untuk membahas pengembangan pelayanan ke Indonesia (Papua). Dan Robert Alexander Jaffray mendukung keputusan ini.
" Tahun 1928, R.A.Jaffray berangkat ke Indonesia dan ia menjelajah di kota Makassar dan membuka pekerjaan Tuhan di sana dan ia membangun salah satu tempat pelayanan dan sekarang dikenal dengan Kampus STT Jaffray Makasar dan selanjutnya ke Papua " Kata Yosia Tebai
| Peserta Saat Mengikuti Seminar Sehari |
Pada tahun 1936, seorang pilot bernama F.J. Wissle, terbang melintasi pegunungan Irian Jaya dan mendarat di danau Tigi di Paniai. Dan tanggal 20 April mereka berhasil tiba di Enarotali. Lanjut Tebai
"Tanggal 31 Mei kepala suku (Ekagi) yang pertama bernama Ketela Gobay dibaptiskan di Kebo, dekat Enarotali. Setelah itu, tahun 1398 ke lembah Baliem di ibele danau (Habema) " Jelas Tebay
Tebay berharap, anak-anak penerus Kingmi bisa menghargai perjuangan misionaris untuk membawa Injil,dan orang tua di pegunungan menerima Injil ini dengan susah paya sehingga anak-anak sekarang bisa melanjutkan tongkat stafer yang ditinggalkan oleh orang tua dulu.
" Anak-anak bisa hargai perjuangan misionaris dan orang tua yang menerima Injil. Dan bisa melanjutkan apa yang ditinggalkan oleh orang tua " tuturnya
Ditempat yang sama, salah satu peserta seminar menyampaikan ucapan terimakasih kepada para pemateri karena hari ini dirinya bisa menimba banyak ilmu.
" Terimakasih kepada bapak Yosia Tebai yang membawa materi masuknya Injil di tanah Papua. karena dengan bapa membawa materi ini saya bisa memahami bagaimana masuknya Injil di tanah Papua" kata Jhon Heluka. (*)

0 Comments